10 October 2007

Ondel-Ondel Jakarta

monaspreviewiv9JAKARTA memang punya daya pesona luar biasa. Kedudukannya sebagai ibukota Negara Indonesia telah memacu perkernbangannya menjadi pusat pemerintahan, pusat perdagangan, pusat perindustrian, dan pusat kebudayaan. Jakarta menjadi muara mengalirnya pendatang baru dari seluruh penjuru Nusantara dan juga dari manca negara.


Unsur. seni budaya yang beranekaragam yang dibawa serta oleh para pendatang itu menjadikan wajah Jakarta semakin memukau, bagaikan. sebuah etalase yang memampangkan keindahan Jakarta ratna manikam yang gemerlapan. lbarat pintu gerbang yang megah menjulang, Jakarta telah menyerap ribuan pengunjung dari luar dan kemudian bermukim sebagai penghuni tetap.


Lebih dari empat abad lamanya arus pendatang dari luar itu terus mengalir ke Jakarta tanpa henti-hentinya. Bahkan sampai detik inipun kian hari tampak semakin deras, sehingga menambah kepadatan kota. Pada awal pertumbuhannya Jakarta dihuni oleh orang-orang Sunda, Jawa, Bali, Maluku, Melayu, dan dari beberapa daerah lainnya, di samping orang-orang Cina, Belanda, Arab, dan lain-lain, dengan sebab dan tujuan masing- masing. Mereka membawa serta adat-istiadat dan tradisi budayanya sendiri Bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi antar penduduk, adalah bahasa Melayu dan bahasa Portugis Kreol, pengaruh orang-orang Portugis yang lebih dari satu abad malang melintang berniaga sambil menyebarkan kekuasaanya di Nusantara.


Di Jakarta dan sekitarnya berangsur-angsur terjadi pembauran antar suku bangsa, bahkan antar bangsa, dan lambat laun keturunannya masing-masing kehilangan ciri-ciri budaya asalnya. Akhirnya sernua unsur itu luluh lebur menjadi sebuah kelompok etnis baru yang kemudian dikenal dengan sebutan masyarakat Betawi.


Dari masa ke masa masyarakat Betawi terus berkembang dengan ciri-ciri budayanya yang makin lama semakin mantap, sehingga mudah dibedakan dengan kelompok etnis lain. Namun bila dikaji pada permukaan wajahnya sering tampak unsur-unsur kebudayaan yang menjadi sumber asalnya. Jadi tidaklah mustahil bila bentuk kesenian Betawi itu sering menunjukkan persarnaan dengan kesenian daerah atau kesenian bangsa lain.


Bagi masyarakat Betawi sendiri, segala yang tumbuh dan berkembang ditengah kehidupan seni budayanya dirasakan sebagai miliknya sendiri seutuhnya, tanpa mempermasalahkan dari mana asal unsur-unsur yang telah membentuk kebudayaannya itu. Demikian pulalah sikap terhadap keseniannya sebagai salah satu unsur kebudayaan yang paling kuat mengungkapkan ciri-ciri ke Betawiannya, terutama pada seni pertunjukkannya.


Berbeda dengan kesenian kraton yang merupakan hasil karya para seniman di lingkungan istana dengan penuh pengabdian terhadap seni, kesenian Betawi justru tumbuh dan berkernbang di kalangan rakyat secara spontan dengan segala kesederhanaannya. Oleh karena itu kesenian Betawi dapat digolongkan sebagai kesenian rakyat. Salah satu bentuk pertunjukan rakyat Betawi yang sering ditampilkan dalarn pesta-pesta rakyat adalah ondel-ondel. Nampaknya ondel-ondel memerankan leluhur atau nenek moyang yang senantiasa menjaga anak cucunya atau penduduk suatu desa.


Ondel-ondel yang berupa boneka besar itu tingginya sekitar ± 2,5 m dengan garis tengah ± 80 cm, dibuat dari anyarnan barnbu yang disiapkan begitu rupa sehingga mudah dipikul dari dalarnnya. Bagian wajah berupa topeng atau kedok, dengan rambut kepala dibuat dari ijuk. Wajah ondel-ondel laki-laki di cat dengan warna merah, sedang yang perempuan dicat dengan warna putih Bentuk pertunjukan ini banyak persamaannya dengan yang terdapat di beberapa daerah lain. Di Pasundan dikenal dengan sebutan Badawang, di Jawa Tengah disebut Barongan Buncis, di Bali barong landung.


Menurut perkiraan jenis pertunjukan itu sudah ada sejak sebelum tersebarnya agama Islam di Pulau Jawa. Semula ondel-ondel berfungsi sebagai penolak bala atau gangguan roh halus yang gentayangan. Dewasa ini ondel-ondel biasanya digunakan untuk to menambah semarak pesta- pesta rakyat atau untuk penyambutan tamu terhormat, misalnya pada peresmian gedung yang baru selesai dibangun. Betapapun derasnya arus modernisasi, ondel-ondel ternyata masih tetap bertahan dan menjadi penghias wajah kota metropolitan yang bernama Jakarta.


TULISAN LAIN TENTANG ONDEL-ONDEL


Yang menarik adalah semua alat-alat musik itu dibuat sendiri. Gendang dari kayu, kenong dan kempul dibuat dari plat seng. Kini, ada juga yang menambahkan instrumen gesek yang asalnya dari gambang kromong, namanya tekyan. Kecuali bahan, yang kini bisa dibikin dari fiberglass, pertunjukan Ondel-ondel tak banyak berubah dari dulu. Gaya tarinya hanya goyang kiri-kanan, lirik musiknya masih yang dulu-dulu juga. Misalnya lagu Lenggang-lenggang Kangkung, Kicir-kicir, atau Srikuning. Memang bisa saja dikombinasi dengan lagu dangdut. "Tapi kayaknya kurang pas," ucapYassin. Aslinya menuru Yasin lagi, Ondel-ondel tidak ada lagu-lagunya, tapi hanya diiringi kendang pencak silat saja. Tapi dalam perkembangannya lagi, ada juga yang mengkombinasikannya dengan musik gambang kromong atau musik tanjidor.


jkt_ondel-ondelNamun kekhasan Ondel-ondel tidak cuma dari penampilan bonekanya maupun musik pengiringnya. Tapi bagi mereka yang percaya, Ondel-ondel punya pengaruh magis. Menurut Asmawi, sebelum diarak, Ondel-ondel punya syarat-syarat. Selain ada yang khotbah dulu, juga dikasih minum. Bisa diberi minum air kelapa hijau, air putih, sampai kopi manis maupun pait. Kadang-kadang diberi juga bahan-bahan dapur seperti telur, juga rokok. Menurut Asmawi, yang memperkirakan Ondel-ondel sudah ada sejak zaman VOC Belanda, Ondel-ondel sekarang sering minta coca cola.


"Memang Ondel-ondel minum tidak kelihatan, tapi dia kan minta. Setelah dia minum, kemudian saya yang menghabiskan minuman itu," ujar Asmawi, yang cara memberi minuman Ondel-ondel dengan menaruhkannya di dalam kerangka tubuhnya. Konon menurut Asmawi lagi dulu sih Ondel-ondel biasanya minta madat. "Kan sekarang yang ada morfin, atau ganja. Masa kita mesti ngisep ganja, kan bahaya, ujar Asmawi lagi.


Sebagai gantinya Ondel-ondel dikasih rokok lisong, ditempelkan saja di mulutnya. "Diisep atau kagak, saya kagak tahu, yang penting syaratnya itu," tambah Asmawi lagi. Seingat Yassin, yang mengutip ceritera kakeknya, ketika dikampungnya berjangkit wabah cacar, 1947, Ondel-ondel bisa digunakan untuk menolak bala. Konon wabah cacar itu habis, setelah orang-orang mengarak Ondel-ondel keliling kampung. Dengan bahan antara lain kayu dan bambu tadi, Asmawi menaksir biayanya perpasang, mencapai Rp.400 ribu.


Namun kini, banyak yang pesan ke Asmawi hanya untuk contoh, tapi kemudian Ondel-ondel itu dibuat dari fiberglass. Orang semacam Yassin atau Asmawi, yang merawat budaya Ondel-ondel, sudah tidak banyak lagi. Kebanyakan hanya karena warisan turun-temurun. Yassin misalnya, masih ingat kakeknya hidup dari pertunjukkan Ondel-ondel. Tapi Yassin sendiri, punya pekejaan lain, Ondel-ondel cuma menjadi kerja sampingan. "Karena hasilnya sudah tidak seberapa", katanya, "cuma karena tradisi, perlu dilestarikan". Begitu juga dengan Asmawi.


Pembuat Ondel-ondel yang sudah memulainya sejak 1942 itu, sedang berpikir untuk mendidik salah seorang anak- cucunya meneruskan merawat budaya Betawi ini. "Tapi belum ada yang kelihatan," katanya. Menurut Dinas Kebudayan DKI Jakarta, pembikin Ondel-ondel tinggal pak Asmawi itu. Grup memang masih ada, misalnya selain milik Yassin tadi, ada juga grup di Cijantung, Kemayoran, dan Cakung. Dan untuk melestarikan Ondel-ondel sering dilakukan festival, selain menurut Romdhoni Ankus dari Puslitbang Dinas Kebudayan DKI Jakarta, diberi bantuan finansial.


Mestinya, menurut Romdhoni lagi, penataan pagelarannya perlu diperbaiki, agar bisa dikemas sebagai tontonan menarik. Tabuhan musiknya dirapihkan. "Bukan cuma gonjrang-gonjrang," katanya. Memang, dalam upacara tradisional, seperti kawinan atau sunatan, Ondel-ondel masih sering tampil di kalangan masyarakat Betawi. Bahkan, pernah masuk Istana, dan dipakai juga untuk menyambut tamu negara. Tapi bisakah kesenian rakyat Betawi ini tetap bertahan?


Ondel-Ondel, Big Doll from Jakarta!


Ondel-ondel is a kind of big doll with people inside. This big doll can walk around some places in Jakarta to celebrate some important events for examples when Jakarta anniversarry (22 June), Independence day (17 August) and other events held in Jakarta. With their bright color of face and clothes, `ondel-ondel` can give good panorama.


`Ondel-ondel` is become a mascot of Jakarta because it`s kind of symbol of Batavias`s people. Batavia or we called `Betawi` people was kind of tribe in Jakarta. They are origin of Jakarta (previous name was Batavia).


The high of `ondel-ondel` is between 2 metres until 2,5 meters with diameters 80 cm. It makes from bamboo plaited for easier to strike it in front the insideof `ondel-ondel` The face of `ondel-ondel` is from mask, with hair make from palm fiber. The male face of `ondel-ondel` paint with red color and female face with white color.


In Pasundan, West java, `ondel-ondel` called as "badawang", in centre of Java called as "Barongan Buncis", and in Bali called as "Barong Landung." The performance of `Ondel-ondel starting from Islam religion spreading to Java Island.


- dari berbagai sumber -

Tags: , , , , , , ,

3 komentar:

Anonymous said...

ondel-ondel budaya betawi yang membuat kita bangga, ada pengalaman menarik dengan ondel-ondel ini, karena anak saya pengin dibeliin ondel-ondel ini untuk di bawa pulang. Waduh berat dong!!
Saran saya bagaimana kalau masyarakat betawi juga membuat miniatur ondel-ondel! ya sekedar buat oleh-oleh dan kenag-kenagan untuk wisatawan luar maupun dalam negeri atau memang sudah ada ini sebagai salah satu penarik wisatawan lo dan untuk income juga buat jakarta. maju terus ondel-ondel, BETAWI lestarikan ondel-ondelnya ya!

Anonymous said...

Betawi memang kaya akan keanekaragaman budaya salah satunya ondel-ondel. salut untuk pemnerintah jakarta yang selalu menyertakan ondel-ondel dalam setiap acara. Akan lebih baik lagi kalau ada acara berajang international keluarkan ondel-ondel sebagai sambutan untuk tamu tamu manca negara kita. adakah terpikirkan andai presiden AS ke Indonesia kita sambut dengan ondel-ondel.

uplot said...

@ Anonymous < ide menarik tuh. siapa yah yang sanggup bikin ondel² miniatur secara massal?

@ Anonymous < kalau untuk jakarta ondel² memang sudah menjadi icon kok